Bumi Halmahera, tidak terasa sudah 1 tahun 6 bulan saya meninggalkan Halmahera Utara, sebuah daerah yang menyisakan banyak kenangan dan kedekatan emosial dengan masyarakat untuk disimpan. Namun kerinduan begitu sangat menggebu-gebu untuk bisa menapakkan kaki kembali di Di Bumi Sultan Ternate tersebut.
Setelah sejenak memandang, saya bergegas menuju ke tempat pengambilan barang, ketika saya melihat kondisi tempat pengambilan barang sangat terkejut, karena begitu minim dengan fasilitas. Berdesakan dengan para penumpang lain akhirnya saya menemukan tas saya. oh oiya saya tidak sendiri, namun berdua bersama dengan Mas Arsyad, yang merupakan program menejer dari kegiatan yang dijalankan di Halmahera Utara. sambil menunggu Manejer Lapangan yang sudah terlebih dahulu berangkat untuk melakukan inisiasi awal terhadap jalannya program, akhirnya muncul juga Bang Jalil, sosok yang sangat tidak asing bagi saya dan Mas Arsyad. setelah bersalaman, kami berangkat untuk mencari sarapan pagi. untuk mencari sarapan pagi kami menyewa kendaraan yang biasa orang ternate bilang oto. sambil memperhatikan komunikasi antara Bang Jalil dengan pemilik mobil, karena setau saya jika kita ingin mendalami sebuah komunitas kita harus menguasai bahasa mereka, setidaknya dialek yang mereka gunakan kita kuasai. setelah tercapai kesepakatan bahwa harga sewa mobil sebesar Rp. 250.000 kami berangkat untuk mencari pelepas rasa lapar kami, yaitu sarapan pagi. setelah melakukan perjalanan kurang lebih 30 menit, kami sampai di rumah makan yang sederhana, dan menu favorit yang disugukan adalah nasi kuning. sungguh menarik sajian dari nasi kuning ada ikan tongkol, atau orang ternate bilang ikan komo, ada telur, dan tidak lupa dabu-dabu atau sambel. ada kemiripan dengan nasi tumpeng di jawa yaitu dari segi warna dan rasa, itu saja.
Selama dalam perjalanan menuju kecamatan malifut, sekali lagi mata saya dimanjakan oleh pemandangan yang sungguh sangat asri dan masih perawan, gunung. lautan dan hutan berpadu membentuk keeksotikan dari Bumi Halmahera. Sungguh sangat indah dipandang, hamparan semak belukar begitu luas, kondisi jalan begitu meliuk-liuk seperti ular. selama dalam perjalanan saya hanya asik untuk memperhatikan kondisi pemandangan yang begitu mempesona. ketika memasuki desa saya liat kondisi rumah, orang-orang, tempat ibadah dll. tak terasa hampir 2 jam kami melakukan perjalanan, akhirnya sampai juga di Kecamatan Malifut, tepatnya di Desa Ngofagita, disana kami dijemput oleh salah seorang fasilitator teknis peternakan namanya ramdan. setelah sampai di rumah tempat kami tinggal, kami istirahat untuk melepas lelah, namun karena pemandangan yang begitu memanjakan mata saya, jadi saya tidak merasa lelah sedikitpun.
Inilah bagian pertama dari Bumi Halmahera yang saya rindukan :D.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar